fbpx

BUKU 100% ORIGINAL. DISKON HINGGA 30%

Review Antologi Puisi Bukan Malin Kundang

Review antologi puisi “Bukan Malin Kundang” karya Mukti Sutarman Espe ini membuat saya seperti disadarkan untuk merenungkan momentum-momentum penting dalam hidup saya. Beberapa puisi dalam antologi ini seperti mengingatkan saya dan menyindir dengan sangat metaforis.

Antologi puisi ini merupakan buku antologi tunggal yang ketiga. Kumpulan puisi tunggal sebelumnya, yaitu “Bersiap Menjadi Dongeng” (terbit tahun 2013), disusul “Menjadi Dongeng” (terbit tahun 2019). Antologi “Bukan Malin Kundang” ini kebanyakan ditulis ketika masa pandemi Covid 19, ketika penulis berada dalam situasi cemas.

antologi puisi

 

Di usianya yang tak bisa dibilang muda lagi, Mas Mukti Sutarman Espe masih mampu mempertahankan produktivitas sebagai penyair. Puisi-puisinya semakin sederhana dan matang. Cara bertuturnya yang khas, lugas dan sangat memperhatikan persajakan, pembaca pasti akan dengan mudah mengenali gayanya. 

Antologi puisi autobiografi

“Bukan Malin Kundang” disebut sebagai antologi puisi yang menggambarkan perjalanan hidup atau autobiografi Mas Mukti Sutarman Espe. 

Tentu saja, penyebutan tersebut sah dan make sense, karena 90 puisi yang termuat di dalam antologi ini didudukkan sebagai rekaman peristiwa-peristiwa hidup penyairnya.

Dilihat dari cover depan yang terkesan sangat alegoris, sebuah lukisan rumah tinggi dengan lantai dan atap bertingkat-tingkat, dengan sempurna menggambarkan sebuah perjalanan hidup yang dinamis.

Kisah-kisah yang disusun dalam bait-bait puisi, kita tak hanya menikmati peristiwa-peristiwa perjalanan hidup, tetapi juga makna hidup. Pelajaran hidup dari seorang tua, adalah catatan penting buat saya yang berusia jauh di bawahnya.

resensi bukan malin kundang

Perhatikan salah satu judul dalam antologi puisi ini

 

Buku Tanpa Judul

*bapak*

 

tidak banyak 

yang bisa kuceritakan tentang bapak

selain kenangan yang kurang enak

 

di mataku ia serupa hal tak terduga

Baca juga:  Ringkasan Buku Lima Bahasa Kasih

kadang seperti kali mati

kali yang airnya tak ngalir ke mana-mana

genang cuma sebagai kubang

 

kadang seperti buku tak terbaca

buku yang tansah tertutup paginanya

isinya sukar diterka

karena tiada judul di sampingnya

 

bapak lelaki pembenci matahari

di teriknya ia lebih suka mengeluh

ketimbang berpeluh

 

di….

tetapi, ah, sudahlah

apa pun tetaplah ia bapakku

lelaki yang menurunkan diriku

 

segala kekurangan dan kelebihannya

tetap kusunggi sebagai pusaka

 

kupikul sejauh tinggi kupendam sejauh dalam

 

2021

 

Ya. Kesadaran tertinggi seorang anak tak lain adalah menerima apa adanya orang tua yang telah mengupayakan anak hingga seperti ini. Seperti halnya orang tua yang menerima apapun kondisi seorang anak sebagai anak.

Mungkin terasa berat. Tapi, menerima apa adanya dengan ikhlas adalah bentuk kedewasaan tertinggi. Perasaan kecewa terhadap seorang ayah tetap melahirkan bahasa indah untuk perjalanan hidup anak-anaknya. Ayah tetap menjadi panduan berharga, tak ternilai, meski kadang tak bisa diduga.

Puisi adalah ruang penyadaran

Seringkali hidup memang begini. Sejumlah peristiwa menempatkan penyair dalam situasi yang sulit dan getir. Suatu ketika terjadi perpisahan, suatu ketika ada sejumlah pertanyaan yang sulit menemukan jawaban. Apakah kita kemudian berhak menjadi hakim yang gelisah?

 

Bukan Malin Kundang

 

“engkaulah si malin kundang itu?”

“bukan, aku tidak mendurhakaimu, ibu.”

“tapi, kau pergi meninggalkanku, ibumu.”

“bukankah ibu berkehendak begitu?

“aku tidak pernah memintamu tak kembali.’

“sebenar-benarnya pergi adalah tak kembali.”

 

(di stasiun tawang orang pergi-datang

dengan berbagai tujuan

di bergota orang mengantar yang pulang

dengan bermacam perasaan)

 

“sebegitu mudah aku kau lupakan?”

“tak semudah yang ibu bayangkan.”

Baca juga:  Ringkasan buku Atomic Habits

“kenapa hubungan kita jadi begini?”

“karena ibu bukan yang dulu lagi.”

“kemestian yang memaksaku berubah.”

“itu yang membikin kita benar berpisah.”

“seyogyanya tanpa luka jiwa.”

“kita berpisah dengan legawa.”

“tapi, kenapa kau masih gelisah juga, nang?”

“sebab aku bukan malin kundang.”

 

(di tanjung mas sebuah kapal bertolak

entah ke mana

di ahmad yani sebuah pesawat mendarat

entah dari mana)

 

Jika hidup itu secercah cahaya, akhirnya cahaya itu sampai pada pintu rumah kita; membawa kita pulang bersama cinta dan kasih sayang sebagai oleh-oleh dari pencarian sepanjang jalan yang jauh. 

Review antologi puisi ini merupakan simpulan dari episode-episode pada pulang yang pasti akan datang.

….

kuketuk lembut dinding hati mereka

membuka daun pintu dan jendelanya

mengalirkan cahaya cinta ke dalam

ruang yang masih temaram

 

Selamat menikmati sambil… jangan lupa minum kopi.

 

Ingin memiliki antologi puisi Bukan Malin Kundang, kunjungi Buku Tajug.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Layanan konsumen kami ada disini untuk menjawab semua pertanyaan kamu.
👋 Hallo, apa yang bisa saya bantu?